Home » Wisata Hati » Bersyukur Disaat Sulit

Bersyukur Disaat Sulit



Bersyukur Saat Diuji

Dalam hal rasa syukur kita kepada Allah, sebaiknya kita terus berdoa dan berusaha, bagaimana lidah kita terbiasa mengucapkan syukur kita kepada Allah. Sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Nabiyullah Musa As setelah mentok di tepi laut. Sehingga Allah pun tak segan lagi menambahkan rezeki-Nya kepada kita. Karena itu sudah janji-Nya, sebagaimana kata Allah, Aku akan menambahkan nikmat dan rezeki-Ku untuk kalian, kalo kalian selalu bersyukur atas nikmat yang telah Aku beri. (Q.S.14:7)

Coba dah apa yang kita bilang kalo kita kehilangan mobil? Satu bulan setelah asuransinya berakhir, setelah kredit tiga tahun, BPKBnya diterima, malamnya hilang. Ayo coba tuh. Apa yang akan keluar dari mulut kita? Ga ada tuh rasa syukur tiga tahun sudah memakai mobil. Apa kalimat yang muncul dari kita?

“Ya Allah, kenapa hilangnya tidak kemarin?” Gitu kan?
“Kenapa setelah asuransinya habis. Setelah tiga tahun berlalu, BPKB baru saya terima dan malamnya hilang. Dasar maling tidak tahu asuransi, tuh!”

Kenapa tidak keluar omongan dari kita seperti ini, “Ya Allah, terimakasih mobil saya hilang. Biar bagaimanapun, Engkau sudah memberiku hak pakai selama tiga tahun. Dan tidak pernah selama itu macet, tapi selalu bayar tepat waktu. Kalau Engkau ingin mengambil lagi, ya Allah, apa yang telah Engkau berikan kepadaku, maka hari ini aku meminta lagi kendaraan yang lebih baik daripada yang Engkau ambil, ya Allah.” cakep!

Jangan Mudah Mengeluh

Di dalam doa Nabiyullah Musa As, yang pernah kita bahas sebelumnya, tidak ada tuh rasa jengkel, atau rasa marah sekalipun sama Allah, pada saat beliau mentok di tepi laut. Malahan beliau tidak minta doa apapun kepada Allah. Yang beliau ucapkan hanya rasa syukurnya kepada Allah. Yang kemudian Allah wahyukan kepada beliau untuk menghentakan tongkatnya, hingga lautpun terbelah.

Coba kita, diberi kesusahan dikit aja ngeluh. Ga ada rasa syukurnya kita dimana sebelum-sebelumnya Allah kasih kemudahan buat kita. Kalau kita yang jadi Nabi Musa dan pengikutnya, apa yang akan keluar dari omongan kita? “sudah capek-capek lari mentok juga!”, “sudah jauh-jauh menghindar, akhirnya kena juga!” Sambil nepok jidat tuh.. Betul tidak? He he

Di dalam hadist qudsi, Allah SWT berfirman :
“Siapa saja yang tidak bersyukur akan nikmat-Ku, tidak bersabar atas musibah yang Aku berikan, dan tidak ridha terhadap keputusan-Ku, maka keluarlah dari langit-Ku, dan carilah Tuhan selain diri-Ku.



Kisah Riyadi #1

Ada kisah tentang kejujuran dan rasa syukur. Kisah ini tentang seseorang yang bernama Riyadi. Dia punya pengalaman kerja 15 tahun. Selama itu pula, tidak pernah ada cacatnya orang ini. Orang yang paling jujur nomor satu di perusahannya. Hingga suatu saat sebuah ujian pun datang. Orang ini memang orang susah. Ia hanya tukang angkut barang dari gudang ke mobil dan dari mobil ke gudang. Suatu saat ia punya kebutuhan. Dia punya anak perlu uang sekolah, uang buku dan dia tidak punya uang. Dia cari ke sana ke mari, ga ketemu. Sampai akhirnya kemudian ia memutuskan untuk mengambil salah satu barang elektronik di pabriknya. Dia pun mengambil yang dia pikir dosanya paling ringan. Kalau kita kan nggak. Kalau aman, kita tingkatkan lagi. Lolos bukannya istighfar, malah ditambahin. Riyadi nggak! Dia pilih yang paling ringan, Cuma mini compo seharga Rp 140.000 untuk kebutuhan anaknya.

Begitu pulang, dikasih tuh duit sama bininya Rp 140.000. Lalu ditanya sama bininya. “Duit dari mana, Bang?”
“Bonus”. Hatinya merintih. 15 tahun dijaga betul makanannya, minumannya, rezeki dia jaga betul jangan sampai ternoda, tapi hari itu ternoda. Dia terpaksa melakukannya.

Tengah malam sang istri bertanya karena dia curiga, “Bener tuh duit bonus?” Nangislah dia. Nangisnya Riyadi itu tanda bagi istrinya. “Oh Rupanya itu bukan bonus”. Paginya ada rapat kecil sambil sarapan pagi bareng anak-anaknya. Riyadi membuat pengakuan di depan anak-anaknya. Luar biasanya, anak-anaknya mulangin. Kata kedua anaknya, lebih baik kami tidak sekolah kalau memang ayah harus mengambil rezeki haram.

Kalau kita yang jadi bininya, mungkin kita berkata, “Itu duit bonus, Pa? Itu kan boleh nyolong, Kenapa milih yang kecil, Pa?” Iya bener. Secara tidak langsung, para istri itu memang bisa mendorong suaminya berbuat macam-macam. Kalau Anda memang para istri memang macam-macam. Tapi ketika istri di rumah men-support dengan dhuha, dengan doa, dengan membaca surat al-Waqi’ah setiap shubuh dan Yaasiin setiap maghrib ketika suaminya bekerja, itu subhanallah, sangan luar biasa!

Terus apa kata si Riyadi? Ada yang tahu? #Bersambung

#Kisah Riyadi– Episode 2
Apa kata si Riyadi?

“Kalau ayah mulangin, berarti ayah harus mengaku, karena radionya itu sudah nggak tahu ada di mana sekarang.”
“Tapi ayah harus mengaku. Kalau tidak mengaku, panjang ceritanya di kuburan nanti.” Kata anak dan istrinya.
Pembaca yang dirahmati Allah, 15 tahun ia bermodalkan kejujuran, lalu dua anak dan istrinya bilang begini, “Masa dipecat Cuma gara-gara Rp140.000 atau gara-gara mini compo doang. Maju dah, insya Allah.”

Ternyata, enggak begitu ceritanya. Dia kuatkan batinnya itu untuk ngomong, tapi nggak sanggup dia.
Begitu pulang, ditanya lagi sama anak dan bininya,
“Udah ngomong?”
“Belum!”

Orang yang memang terbiasa dengan rezeki halal, akan tersiksa dengan rezeki yang tidak halal. Tapi orang yang memang terbiasa dengan rezeki haram, Oh.. Nyaman betul! Dan kelak ia akan merasakan suasana susahnya. Kapan? Nanti di yaumil hisab.

Kata Allah, kalian mau dunia? Carilah, tapi cari dengan cara-Ku dong. Kalau kalian cari bukan dengan cara-Ku, kata Allah, juga ga usah khawatir, Aku akan bukakan pintu-pintu yang membuat Anda akan semakin senang, semakin tinggi, semakin jaya dan semakin banyak. Tapi ingat, ketika kalian sudah mencapai posisi tertentu, “sreet”, sekali tarik, selesai!

Si Riyadi tersiksa. Hari kedua belum ngomong makin tersiksa, hari ketiga belum ngomong makin tersiksa. Eh.. hari ketika ia katakan batin ingin ngomong ke bosnya, tiba-tiba ada pemeriksaan. Begitu dia datang mau menghadap ke bosnya, orang-orang lagi dikumpulin. Rupanya ada kebocoran, ada barang yang hilang. Si Riyadi sudah enggak ada jantungnya, tuh. Dia berpikir semua suara itu akan mengarah kepada dia. Riyadi lupa kalau orang-orang, tuh, ngincer bukan mini compo yang model begini. Jadi yang diperkarakan sama bos ini bukan urusan yang kecil, tapi urusan yang gede. Semua diperiksa, kecuali Riyadi. Harusnya kan enak tuh, tapi makin tersiksa si Riyadi.

Riyadi menghadap, “Saya kok enggak diperiksa, pak?”
“Ah kamu mana mungkin mencuri?!”
Makin susah dia menghadap. Makin susah dia menghadap, nangis jadinya si Riyadi. Terus dia ngomong, “Saya salah, Pak!”
“Ah kamu salah apa? Kamu sudah jujur 15 tahun.”
Si bos ini bingung, “Kenapa kamu?”
“Pak, kemarin saya ngambil mini compo!”
“hah, ngambil mini compo?”
“Betul, pak!”
“Yang mana?”
“Memang nggak kelihatan Pak, yang itu enggak masuk daftar.”
Berubahlah muka si bos, lalu berkata,

“Hukum tetaplah hukum. Kamu sudah tahu dan sudah ikut belasan tahun. Saya enggak akan mentolerir yang seperti ini!”
Sebenarnya si Riyadi berharap bahwa 15 tahun dia kerja akan ada kebijakan buat dia. Tapi ternyata enggak berlaku dia saat itu.
Kata si bosnya, “Pokoknya yang namanya nyolong tetap nyolong. Anda sudah tahu peraturannya. Siapa yang nyolong mau kecil atau besar, keluar!”

Hari itu keluarlah si Riyadi. Tapi apa kata si bosnya ke dia,
“Karena kamu sudah menjaga kejujuran selama 15 tahun, hari ini saya berbaik hati kepada kamu. Saya akan beri kamu pesangon.” Berapa pesangonnya? Pesangonnya dua juta. Cukup besar pada masa itu, yaitu di tahun 1996. Tapi buat seorang Riyadi yang 15 tahun tidak terbiasa berwiraswasta dan terbiasa cuma mengangkut barang, nurunin barang, ini jadi masalah buatnya. Dia pake makan terus, akan habis duitnya, enggak dipake, enggak ada lagi yang bisa dipake kecuali ini.

Pulangnya dia menangis. Nah disinilah hebatnya orang-orang sabar. “Ustadz, kan Riyadi enggak sabar?” Iya, tapi perjalanan koreksi dirinya itu yang telah membuat Allah masih menggolongkan orang yang sabar. Kan dia mengoreksi diri tuh. Dia beristighfar, mengadu walaupun ternyata pahit juga, tetapi dia terima. Ini luar biasa!

Bagaimana selanjutnya Allah menunjukkan jalan-Nya kepada Riyadi? Ada yang tahu? #Bersambung

#Kisah Riyadi– Episode 3 (Selesai)

Ternyata dua jutanya itu jadi bengkel. Namanya bengkel “Berkah Motor”.

Wa ba’du, ceritanya dengan kondisi dia sudah tidak lagi bekerja, tetangga kanan kirinya pun tahu jika Riyadi enggak kerja lagi. Mereka juga tahu kalau Riyadi ini tukang ngebenerin motor. Dan mereka pun tahu bahwa Riyadi orang yang jujur.

Dan kita, kalau jadi pelanggan, sangat senang jika ketemu sama mekanik yang jujur. Sama bengkel yang jujur, kita happy punya perasaan. Tetangganya datang satu-satu ke dia, “Pak, saya mau benerin motor.” Dibetulin sama dia. Alat-alat dia beliin semua. Angkanya sesuai sama angka yang dia beliin. Mulai satu jadi dua, dua jadi empat, empat jadi delapan, delapan jadi enam belas. Dan di tahun 2001, dia sekeluarga pergi haji. Subhanallah. Luar biasa! Kalo kita menganggap jujur itu pahit, tapi bagi Riyadi, jujur itu manis! Coba kalau saat dia tidak jujur, tidak di-PHK, kalau dia tidak di-PHK, enggak ada dia di Makkah, Subhanallah!

“sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.” (Q.S. Al-Baqarah : 153)

“Allah, tidak ada Tuhan – yang berhak disembah – melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (Q.S. Al-Baqarah : 255)

Facebook Comments
loading...