Home » Keluarga » Parenting » Cucu Perempuan yang Terlalu Dimanja Ini Menghina Kakeknya yang Miskin dan Mengusirnya! Sang Ayah Kemudian Mendidiknya dengan Caranya yang Menakjubkan! Orang tua Wajib Baca

Cucu Perempuan yang Terlalu Dimanja Ini Menghina Kakeknya yang Miskin dan Mengusirnya! Sang Ayah Kemudian Mendidiknya dengan Caranya yang Menakjubkan! Orang tua Wajib Baca

Pendidikan keluarga menyumbang sebagian besar dalam membentuk karakter dan kepribadian seorang anak.

Anak-anak yang berangsur-angsur tumbuh dewasa akan memiliki pandangan dan pemikirannya sendiri.

Bagaimana mendidik anak yang berkualitas telah menjadi masalah utama bagi para orang tua.

Seorang gadis cilik yang baru berusia 8 tahun, dimana setelah terbiasa hidup dalam suasana yang nyaman, tak disangka menghina kakeknya yang berpakaian sederhana (lusuh), sehingga membuat kakeknya tak tahan menangis sedih.

Sang ayah yang mengetahui hal itu kemudian memberikan pendidikan yang mengejutkan pada putrinya.

Katie Yao, seorang gadis cilik berusia 8 tahun ini memiliki ayah yang kini sukses dalam karir, kondisi keluarganya sekarang jauh lebih baik dan makmur.

Katie Yao disekolahkan di SD yang mahal. Teman-temannya yang rata-rata berasal dari keluarga berada setiap hari selalu diantar-jemput dengan mobil.

Belakangan ini, karena sibuk dengan pekerjaan, orangtua Katie kemudian meminta kakek Katie yang tinggal di desa untuk tinggal di rumah, membantu menjaga Katie cucunya.

Suatu hari, ayah Katie yang tidak sempat, meminta ayahnya untuk menjemput Katie.

Saat itu, Katie baru berjalan keluar bersama teman-teman sekelasnya, dan ketika melihat kakeknya yang lusuh itu, ia merasa malu, dan menepis tangan kakeknya berkata dengan lantang, “Pergi sana, memalukan saja, aku tidak mau melihatmu!

Lalu sambil berlari Katie pulang ke rumah, sementara kakeknya mengikuti dari belakang. Kemudian kakeknya diam-diam mengemasi barang-barangnya lalu pulang ke desa.

Saat sang ayah bertanya kepada Katie tentang kakeknya, Katie mengatakan dirinya merasa malu melihat kakek di depan teman-temannya!

Selama ini, ayah Katie sudah terbiasa hidup hemat, beberapa saudaranya biasanya akan memberi uang setiap bulan untuk sang ayah di kampung.

Masalah ini terjadi pada diri putrinya dan harus segera diatasi. Sang ayah kemudian mencari solusinya dari teman-temannya.

Siang itu, ia mengajak Katie ke restoran fast food. Namun saat mereka berjalan ke tempat duduk, sang ayah tiba-tiba membuang semua makanan yang baru dibeli ke lantai.

Katie mau mengambilnya, sementara wajah sang ayah terlihat tidak senang lalu berkata dengan marah, “Pergi kamu! Kamu benar-benar kurang ajar, aku tak mau melihatmu lagi”.

Mendengar amarah ayahnya, Katie langsung menangis histeris.

Setelah tangisan Katie berhenti dan tenang kembali, ayahnya lalu memeluknya dan berkata pada Katie.

“Apa kamu merasa malu karena begitu banyak orang yang melihat ke sini?” Katie mengangguk.

“Lalu bagaimana dengan perasaan kakek saat itu, ia juga akan sedih, bukan?” Kata sang ayah lagi.

Barulah Katie menyadarinya, bahwa kelakuannya itu salah dan tidak patut.

Kemudian Katie menelepon kakeknya, “Kek, Katie minta maaf, Katie tidak akan begitu lagi, Katie tunggu kakek di rumah.”

Contoh didikan langsung sang ayah di lapangan ini, memang sengaja membiarkan anaknya merasakan sendiri hal seperti itu atas sikapnya, agar ia bisa merasakan kesalahan atas sikapnya.

Selain itu, terlalu berlebihan dalam memanjakan anak dengan iming-iming uang juga bukanlah hal yang baik.

Anda harus membiarkan anak-anak mengerti bahwa mencari uang itu bukan hal yang mudah, dan biarkan anak-anak memahami bahwa seseorang harus tahu bersyukur dan berterima kasih.

Membesarkan anak itu mudah, tapi bagaimana mendidik anak yang berkualitas bukanlah tugas yang mudah. Selain itu, kita juga harus mendidik anak dengan benar bagaimana menghormati orang tua.

Pertama, tanamkan konsep pada anak untuk menghormati orang tua. Supaya ia tahu menghormati orang lain itu adalah kebajikan, hanya orang yang menghormati orang lain baru akan dihormati.

Kedua, orang tua (ayah-ibu) dapat menanamkan pengetahuan atau melalui cerita tentang menghormati orang tua (kakek-nenek, senior), agar ia menyadari bahwa menghormati orang yang lebih tua darinya itu adalah hal yang sudah sepantasnya dilakukan.

Ketiga, selaku orang tua harus memberikan teladan kepada anak, misalnya menghormati orangtua sendiri di rumah, dan menciptakan suasana keluarga yang rukun-harmonis, agar si anak merasakan bahwa suasana keharmonisan segenap keluarga itu berasal dari penghormatan itu sendiri. (jhn/rp)

Facebook Comments
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *