Home » Berita » Idul Adha 2018 – Sahkah Jika Tukang Jagal Tidak Menyebut Nama Orang yang Berkurban? Ini Kata UAS

Idul Adha 2018 – Sahkah Jika Tukang Jagal Tidak Menyebut Nama Orang yang Berkurban? Ini Kata UAS

Ustaz Abdul Somad

Hari raya Idul Adha 2018 tinggal menghitung hari.

Beberapa orang tampak sudah mempersiapkan hewan kurban di hari raya Idul Adha 2018.

Beberapa pertanyaan seputar kurban di hari raya Idul Adha 2018 ini masih kerap saja di tanyakan.

Di antaranya apakah orang yang berkurban itu harus menyembelih hewannya sendiri.

Kemudian jika hewan kurban disembelih oleh orang lain, yakni tukang jagal, bagaimana hukumnya jika nama pengkurban tidak disebutkan.

Ustaz Abdul Somad mengatakan hukum bagi orang yang menyembelih hewan kurbannya sendiri adalah sunnah.

“Sunnah, nabi motong sendiri, bagus,” ujarnya dilansir TribunnewsBogor.com dari YouTube Tafaqquh Video, Kamis (16/8/2018).

Meski begitu, Ustaz Abdul Somad sendiri rupanya selama ini belum pernah memotong hewan kurbannya sendiri.

“Pernah datang orang ke kampus menjual pisau hanya untuk daging seharga Rp 300 ribu, saya beli satu, tapi sampai sekarang tak pernah saya pakai,” ujarnya.

Hal itu bukan tanpa alasan, kata dia, memotong hewan kurban itu tidak boleh sembarangan.

“Pertama harus punya ilmunya, yang kedua harus berani. Ilmunya yakni dua urat harus putus, yaitu urat napas dan urat makan,” ujarnya.

Ustaz Abdul Somad kemudian mencontohkan ada orang yang memotong hewan kurban kemudian yang putus baru urat makannya saja, sementara urat napasnya belum putus.

“Begitu dibuka tali, tegak balik sapi. Masuk ke internet, sapi kerasukan setan, padahal uratnya belum putus. Makanya kalau tak punya ilmunya jangan motong,” jelasnya.

Yang kedua, kemudian harus berani.

“Ilmunya ada, tapi tak berani motong, begitu lihat darah, sapinya tak mati dia pingsan,” katanya.

Untuk itu, kata UAS, panitia jangan sembarangan mempersilahkan orang yang berkurban untuk memotong hewan kurbannya sendiri.

Kemudian, saat tukang jegal memotong hewan kurban, seharusnya mengikuti sunnah nabi dengan menyebut nama orang yang berkurbannya, namun kalau tidak disebut pun tidak apa-apa.

“Kata Imam Al Hasan Al Basri dari kalangan Tabiin, andai tak disebut pun tetap sah, segala amal tergantung dengan niat, niat saja sudah sah,” jelasnya.

Jangan sampai, kata dia, ada ibu-ibu pulang dari pemotongan hewan kurban menangis karena namanya tak disebut.

“Kalau mau disebut boleh, andai tidak boleh, jadi jangan dipertentangkan,” tandasnya.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *