Kaizen “Continuous Improvement”

Posted on

Etos kerja sangat dijunjung tinggi di negeri Sakura, meski ada juga yang saya pikir terlalu berlebihan, namun kedisiplinan, ketepatan waktu, dan semangat orang Jepang dalam bekerja patut dicontoh. Ada sejumlah perbedaan yang saya temui di sini, beberapa diantaranya sangat sepele namun ternyata bisa mengefisienkan sebuah pekerjaan.

Di kota Nishio, saya sering berinteraksi dengan karyawan Sagawa, sebuah perusahaan jasa pengiriman. Jika di Indonesia seorang supir biasanya ditemani dengan kenek, namun Sagawa dan hampir semua perusahaan jasa pengiriman barang menerapkan hal yang sama. Sang supir hanya sendirian, dia lah yang mencatat barang yang harus dikirim, mengemudikan, mengangkat barang dari truk untuk dibawa ke tempat tujuan, hingga merawat mobil pengiriman jika terjadi kerusakan. Semua dia lakukan sendiri, tanpa bantuan siapapun.

Perusahaan Meitetsu (bus transportasi) yang halte nya berada di kampus saya pun menerapkan hal yang sama. Tak ada kenek ataupun pendamping supir. Sang supir hanya sendirian, untuk pembayaran, kenek diganti dengan sebuah mesin otomatis. Tanpa kenek, pengeluaran perusahaan bisa ditekan. Supir bekerja lebih serius, tanpa menghabiskan waktu bercengkrama dengan kenek. Dan dia bekerja lebih teliti, karena jika terjadi kesalahan, tak bisa melempar tanggung jawab. Mengapa ini semua bisa terjadi?

Ternyata hampir semua perusahaan Jepang menerapkan Kaizen. Kata ini sendiri berasal dari dua kosakata, Kai yang berarti pengembangan dan Zen yang artinya kebaikan. Arti kata tersebut adalah pengembangan kearah kebaikan. Kaizen sering juga disebut dengan continuous improvement atau pengembangan berkelanjutan. Prinsip kerja kaizen ada empat, yaitu rencana (plan), lakukan (do), periksa (check) dan perbaiki (fix). Prinsip kerja ini berupa siklus yang tak pernah terputus. Selalu berlanjut dan berlanjut.

Bagaimana penerapan prinsip kerja ini? Saya beri contoh penerapannya pada bus gratis kota Kariya, meskipun gratis, pelayanan bus ini luar biasa. Bus ini juga menerapkan Kaizen dengan melakukan hal sederhana. Awalnya rute bus telah disiapkan oleh Kota Kariya (plan), kemudian bus pun mulai beroperasi (do). Sang supir mencatat berapa orang yang menaiki bus gratis di setiap pemberhentian, dia pun mencatat waktu dan tempat krusial kemacetan di jalan sehingga penumpang tak terlambat masuk kerja (check). Catatan ini diserahkan sebagai bukti riset sederhana-nya. Hasilnya, jalur bus gratis akhirnya bukan berada di jalan utama, namun di jalan bagian dalam (sisi) jalan utama. Bus gratis juga tetap bisa tepat waktu, karena mampu menghindari kemacetan setiap rush hour (fix). Saya yakin, bus gratis akan tetap melakukan Kaizen, karena sampai sekarang, setiap saya menaiki bus ini, sang supir masih melakukan pencatatan penumpang.

Hasil penerapan prinsip kerja ini bisa Anda lihat dalam kehidupan sehari-hari di negeri sakura. Mulai dari ketepatan waktu bus dan kereta, efisiennya kerja instansi pemerintah dan swasta, jadwal pembuangan sampah, hingga rambu-rambu di jalan yang lengkap. Ini semua hasil riset dan pengembangan yang berkesinambungan.

Kaizen adalah bukti keseriusan untuk terus berkembang dan berkembang. Inilah yang menjadikan seseorang atau perusahaan di Jepang ber-etos kerja tinggi. Setelah kurang lebih 2 bulan belajar banyak tentang Kaizen 4 perusahaan besar Jepang, selanjutnya saya pun akan melakukannya untuk Kreasi Presentasi.

Salam Amazing.

Sumber : dhonyfirmansyah.com

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *