Home » Wisata Hati » Kenikmatan dalam Ridho Menunggu Janji Allah

Kenikmatan dalam Ridho Menunggu Janji Allah

Ni’mat dan pengabulan paling tinggi, paling berkah, paling ni’mat, adalah sebenarnya saat kita kembali kepada Allah. Ga seberapa penderitaan dibanding nanti malah Allah ga kasih kita izin untuk beribadah kepada-Nya, lalu dimasukkan ke dalam neraka yg abadi.

Temukan kenikmatan dalam ridho menunggu Janji Allah. Kuatin diri, hingga Allah malu untuk memperpanjang kesusahan kita. Lagian sudah berapa lama juga taubat kita, dibanding dengan lamanya maksiat kita? Sudah berapa lama kembalinya kita, dibanding lamanya kita meninggalkan-Nya?

Dan sesungguhnya, hanya syetan yang membuat kita merasa lama dan merasa berat. Dulu saya hampir begitu juga perasaannya. Saya menjalani riyadhah, kurang lebih 7 tahun. Saya terimain aja apa yang trjadi. Sambil saya buang kepada, “Oh, gapapa ya Allah. Segala kesusahan ini semoga menambah ampunan-Mu.”

Dan benarkah saya belom dikabul dan tambah susah? Ah engga. Sebab ternyata dalam periode 7 tahun itu banyak sekali ni’mat baru. Di antaranya, saya malah jd ngafal Qur’an. Saya menikah dengan Maemunah. Wirda, Quumii, Kun, lahir di periode itu. Kemudian disusul selepasnya Haafizh dan Aisyah. Dan saya baru menyadari banyak hal. Yang akhirnya di periode 7 tahun yang disebut masa sulit itu, sebenernya bukan masa sulit. Kerjaan syetan aja ini mah. Membuat mata saya hanya ke masalah, bukan ke karunia. Terlebih lagi saat melihat, betapa banyak orang yang ga dikasih kesempatan bertaubat, sebab langsung meninggal dunia.

Di episode itu pula, saya malah bikin buku. Lalu masuk majalah, koran, radio, dan bahkan tv. Saya masuk tv dlm keadaan ketakutan. “Tar kalo disangka saya udah lunas utang? Gimana?” Ah saya bunuh aja perasaan itu. Ya gapapa kan disangka begitu? Jadi doa. Kawan-kawan, terus aja beribadah, berdoa, dan berharap. Gapapa. Yg salah itu, menggerutu. Mengeluh.

Luasin lagi ilmunya. Masalah itu anugerah. Kesulitan, kesusahan, problem hidup, semua adalah karunia. Bila itu bisa menjadi jalan kita kembali kepada Allah, sungguh, itu MURAH sekali harganya. Tahanin, sabarin, ni’matin.

Facebook Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *