Home » Artikel » Mendikte Allah

Mendikte Allah

Sekitar 2 tahun yang lalu, saya ikut seleksi calon pegawai di sebuah BUMN terbesar d Indonesia. Saya akui, saya mau jadi pegawai jika bekerja di perusahaan ini, selain perusahaan ini, lebih baik saya jadi wiraswasta saja. Agak tinggi juga standarnya. Dikarenakan waktu itu saya sedang fokus untuk berusaha sendiri di bisnis yang sedang saya bangun, maka proses mendaftar kali itu tidak serius serius amat.

Mendaftar via web-nya, lalu saya lengkapi persyaratannya yang alhmdulillah bisa saya penuhi. Mulai dari syarat IPK, TOEFL min 450 dan lain lain. Seleksi berkas, Saya lulus, lalu diundang untuk ikut tes bahasa inggris, alhamdulillah saya lulus lagi. Kalau saya tidak salah yang mendaftar waktu itu tembus angka 4000 orang, setelah tes bahasa inggris tersisa 600-an. Lalu tes dilanjutkan dengan psikotes. Jujur ini pengalaman pertama saya ikut psikotes untuk mendaftar kerja. Pesan istri saya yang lebih berpengalaman fokus dan jangan terpengaruh orang lain.

Lagi lagi saya lolos, wah..saya yang iseng iseng kok malah lulus. saya perhatikan teman teman yg lain pada serius, bahkan ada yang sudah bekerja d BNI, Kepala Cabang Indo Mobil, PLN dll, cuma saya yang bukan dari pegawai/ karyawan sebelumnya.

Wawancara dengan user, hehe, lagi lagi ini pengalaman pertama saya. Gugup, iya juga, tapi saya sudah pernah baca bahwa kalo wawancara harus ini dan itu, seperti yang saya tulis dalam note sebelumnya.

intinya, wawancara harus PD, tidak curhat, menghiba, atau menjelekkan orang lain. dan saya lulus lagi, peserta tes tersisa 2 orang. Tes terakhir adalah tes kesehatan, setelah sebulan menunggu hasil tes, keluarlah pengumuman, bahwa saya tidak lulus. Subhanallah.

Poin yang ingin saya sampaikan disini adalah di awal awal tes, tidak pernah terbesit dalam pikiran saya untuk lulus tes. Saya sudah cukup nyaman dengan kehidupan saya saat itu. ikut tes adalah salah satu bentuk upaya saya menyenangkan orang tua, karena beliau sudah sekolahkan saya, tapi menurut mereka ijazah saya tidak dipake. Dalam pikiran saya waktu itu, lulus syukur nggak ya gak pa pa. Doa sayapun sekedarnya saja, “ya Allah mudahkan urusan saya”

Namun, semakin ke belakang, semakin saya sering lulus tesnya, semakin berdebar hati ini, makin gelisah dan syetan masuk. doa sayapun mulai berubah, bukan lagi Ya Allah mudahkan urusan saya, tapi sudah menjadi Ya Allah luluskan saya, agar saya bisa memperbaiki kehidupan keluarga saya, membantu banyak orang, dan lain lain. Nah, mulai ada perkataan -memaksa Allah- untuk meluluskan.

Ketika doa terakhir saya ucapkan, saat itu Allah mungkin mulai terusik, -sukak kau ajapun- lupa kita bahwa Allah maha berkehendak, tak perlu dipaksa paksa, semua sudah ada jatahnya.

Sering kali saat kita sudah mulai sangat berharap harap dengan sedikit memaksa Allah, justru kebanyakan tidak Allah kabulkan, namun saat kita hanya pasrah, tidak terllau memaksa justru malah disana ada pengabulan dari Allah.

Dari sini kita belajar bahwa biarkan Allah menentukan hasilnya, jangan paksa Allah menentukan hasil sesuai yang kita minta, berusaha yang terbaik, bahwa Allah punya jawaban terbaik untuk setiap doa kita, Allah punya rencana terbaik untuk hidup kita, tugas kita hanya berusaha, urusan hasil, biarkan Allah yang bermain. Saat kita yakin se yakin yakinnya dengan takdir Allah bahwa Ia akan berikan yang terbaik, sat itulah kita akan merasakan bahwa Allah itu maha baik, maha adil.

Berprasangka saja selalu yang baik kepada Nya, karena Allah itu bersesuaian dengan persangkaan kita. Jangan memaksa Allah untuk kabulkan setiap apa yang kita pinta, bukan Allah tidak mau, tapi waktunya saja yang menurutNya belum tepat, sabar saja dan terus berusaha, berdoa lalu bertawakal kepadaNya

salam
Bag Kinantan

Facebook Comments
loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *